28.10.13

PROLOGUE : SKYFALL



"Because we were born in same sunlight, ground, and scent. We're by this connection 
called fate. And what brought us now here is our own different flame, so they could 
meet and bring a new flare in our life. We are, GODEATER." ~Nagi Akakuro

Top of Anakagumon from afar
(Mountain of God e.g. Lung)
Siluet sosok laki - laki berjubah berlari melintasi cakrawala Avalonia yang memerah. Langit luas membentang dan awan - awan bergerak cepat menjauhi bintang utama menuju ke selatan.

Laki-laki dengan jubah itu terdiam, menatap bintang utama dan mengerinyitkan alis matanya yang berkelit tebal kemudian merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah jam antik tanpa jarum jam, menit, detik. Ia mengeluh khawatir kemudian angin berhembus menerjangnya, mengibaskan jubahnya yang kusam bermandikan cahaya merah scarlet. Dengan ragu ia menatap bintang utama dan berbisik, "Langit runtuh,"


 ****


 "Ayah?" Inori, anak dari Gotah penjaga Gunung Anakagumon menoleh ke arah Gotah yang menatap langit dengan gentar, "Ada apa?"

"Inori,," bisik Gotah sambil menatap langit dan mengerinyitkan matanya, "Cepat.. Kita ke hutan," katanya sambil meletakkan keranjang buah bawaannya dan berlari kearah puncak Anakagumon.

"Ada apa ayah?" tanya Inori sambil berlari dibelakang ayahnya.

"Cepat!"


 Mereka berlari ke hutan dengan tergesa-gesa, menaiki Gunung Anakagumon yang kejam dan gelap bermandikan cahaya keemasan senja yang tak kenal ampun.

"Ayah, ada apa?" tanya Inori, terengah-engah mendaki di belakang ayahnya yang berjalan semakin pelan.

"Aku,, Aku,," terengah-engah, Gotah terus mendaki dan mendaki, "Aku harus melindungi Osaka,"

“Sudah ayah.. Ayo pulang.. Ayah tak mungkin bisa mendaki dengan kondisi seperti ini..” ratap Inori sambil memapah Gotah, “Ayo,”

“D.. Diam Inori.. Bawa aku naik.. C..cepatlah.. Jika tidak.. langit akan runtuh..” rintih Gotah, berusaha mendaki dengan kedua kaki-nya.

"Langit? Jangan - jangan.." seru Inori tekejut dengan berbendung air mata, "Waktunya sudah tiba?"

"Ya.." jawab Gotah sambil menatap bintang utama, "Waktunya bagiku untuk kembali kepada Yurei." Gotah tersungkur diatas kedua kaki tuanya yang bergetar lemah.

"Ayah!"

 “Inori.. Kau ingat kan.. Kenyataan bahwa keluarga kita adalah keluarga pembawa sial. Dalam darah kita mengalir.. kekuatan.. untuk melindungi Osaka. Kini, sudah saatnya bagiku untuk melanjutkan apa yang telah leluhurku lakukan sebagai penjaga barrier Gunung Anakagumon. Aku harus melindungi.. barrier ini sampai akhir. Karena itu Inori, tolong antar aku ke puncak,” dengan lemah Gotah menggenggam tangan Inori dengan tangan tuanya yang bergetar dengan hebat, “Inori,”

“I.. Iya,” jawab Inori menahan tangisnya dan memapah Gotah, “dan ayah, akan pulang bersamaku,,”

“Ya,”


 ****


 “Shion..”

“Apa?” seru Shion mengerinyitkan alisnya sambil mengaduk – aduk teh, “Rivalry?”

Aide Shion, Rivalry, menatap tuannya dengan bengis dan mengetuk meja kerja Shion, “Kau melamun. Laporan itu terkena cipratan teh-mu.”

“Oh,” jawab Shion ringan kemudian menumpahkan sisa teh itu ke atas laporan lainnya, “Katakan pada mereka biar penjual teh ini yang menjadi raja selanjutnya,”

“Shion!”

“Aku tau.. Aku tau.. Sebagai anak tunggal penguasa Reverie aku harus menjadi kandidat raja Osaka, ya?” Shion tertawa dengan putus asa, “Dasar darah sialan,”

Rivalry terdiam sambil merapikan laporan – laporan Shion, “Kau,,” bisiknya.

“Apa?” tanya Shion heran, “Dingin? Jangan bercanda.”

“Karena hanya perempuan lusuh itu  yang ada di benakmu kan? Kau selalu mengutamakannya daripada Reverie sekalipun. Hanya karena ia menyelamatkanmu dari pers hitam 5 tahun lalu.”

“Hey,” celetuk Shion sambil tersenyum, “Jangan lupa namanya, I-N-O-R-I,”

“Ya. Sekarang cepat...” Sebelum Rivalry menyelesaikan kata – katanya, halilintar berkelebat dan Anakagumon dari jauh terlihat membara, “Shi.. Shion,”

“Inori..” kata Shion lirih sambil meraih jubah dan pedangnya yang menggantung di lemari, “Ini tugas. Selesaikan semua laporan itu Rivalry!”

Sekejap iris mata Shion berubah hitam, mengarah ke mata Rivalry yang mengakibatkan Rivalry langsung duduk di bangku Shion dan mengerjakan laporan tersebut sesuai titah Shion. Kekuatan penguasa Reverie, Varian.

Shion pergi keluar mansion-nya dengan menunggangi kuda-nya, “Inori,” bisiknya, menerjang hujan menuju Anakagumon.


 ****


 “Kita sampai ayah,”

“Terimakasih...” Gotah melepaskan rangkulan Inori. Mereka telah sampai di puncak Anakagumon dengan tarian halilintar dan selimut badai memayungi langit, "Epinema.."

"Sekarang apa ayah?"

"Segelnya hancur. Aku harus membuat segel baru," jawab Gotah sambil mengeluarkan gulungan penguasa Anakagumon yang sudah lusuh kemudian menggigit ibu jari-nya, menorehkan namanya di gulungan itu menggunakan darahnya, "Menjauh Inori.."

Inori mundur beberapa langkah, “Ayah..”

Gotah meletakkan gulungan itu di tanah, meletakkan telapak tangan diatasnya dan membaca tembang penguasa,




"Aku adalah penjaga dan penjaga adalah aku.
Aku adalah waktu dan waktu adalah aku. 
Aku adalah tanah dan tanah adalah aku. 
Aku adalah gunung dan gunung adalah aku. 
Aku adalah nyawa dan nyawa adalah aku. 
Aku adalah Anakagumon dan Anakagumon adalah aku.
Atas nama penjaga, waktu, tanah, gunung, nyawa, dan Anakagumon aku mengatur tempat ini. 
Turuti perintahku.” 

Cahaya merah kuning berpendar – pendar, memecah permukaan tanah tempat Gotah berdiri. Miasma bertebaran dan meracuni udara. Gotah tetap bertahan dengan posisi ‘penguasa’-nya dan menapakkan kaki kanannya keras menghantam tanah. Miasma itu pudar seolah – olah angin meniup mereka menjauh.


“Wahai Raja Naga yang gagah. Wahai dewa langit perkasa. Dengan ini hamba menyatakan penggantian segel. Atas nama penjaga, waktu, tanah, gunung, nyawa, dan Anakagumon hamba memohon penghancuran terhadap segel lama dan pembaruan segel baru,” kata Gotah sambil mengangkat kemudian menelungkupkan tangannya, “Anakagumon,”

Ledakan besar cahaya merah memecah langit berawan badai hitam , menembus barrier Osaka dan membentuk barrier baru. Barrier itu membentang seperti bola, menyelubungi tanah dan langit Osaka, melindunginya dari serangan dan ancaman dunia atas maupun bawah. Tak hanya di Osaka, Sang, Gome Kifune, Ukkyou, Gifu, diikuti region lainnya mulai memancarkan cahaya – cahaya dewa mereka dan membentuk barrier – barrier baru. Pertanda akan adanya bencana dan kedatangan dari dunia atas dan dunia bawah.


Dunia parallel terdiri atas 3 bagian dunia yaitu dunia dewa, dunia manusia, dan dunia bawah. Perumpamaan yang sama dengan langit, bumi dan dalam bumi. Di dunia manusia atau dikenal dengan sebutan Avalonia terdiri atas dua pulau besar yaitu Zeeland dan Zousia. Dunia atas adalah dunia dewa dan dunia bawah adalah dunia setan. Dunia dewa terdiri atas 34 tingkatan yang disebut Autumm Langit. Tingkatan ini dibagi menjadi 4 bagian yaitu bagian dewa yang dihuni oleh dewa – dewa penjaga harmonisasi dunia parallel dan dewa hasil reinkarnasi manusia, bagian ayakashi yang dihuni oleh ribuan ayakashi berbagai jenis dan ukuran yang merupakan hasil dari impian dan imajinasi manusia Avalonia, bagian pelindung atau sering dikenal dengan istilah barrier yang berfungsi untuk menjaga agar dunia atas tetap kasat mata oleh dunia manusia yang ada di bawahnya dan untuk menjaga agar tak ada satupun hal dunia luar yang bisa masuk ke dunia atas dan tak ada satupun makhluk dunia atas yang bisa jatuh ke dunia manusia, serta bagian penghubung yang berfungsi untuk menghubungkan ketiga bagian dunia. 

Keempat bagian ini membentuk tingkatan vertikal selayaknya tumpuk tumpukan awan dengan urutan bagian dewa yang paling atas terdiri atas 10 tingkat, bagian pelindung inti 1 tingkat, bagian penghubung 2 tingkat, bagian pelindung tengah 1 tingkat, bagian ayakashi 18  tingkat dan 2 tingkat bagian pelindung luar yang terbesar dan terkuat yang dikenal dengan istilah Lectherandeum.

Epinema langit runtuh yang terjadi di Avalonia merupakan hasil dari hancurnya bagian barrier pada dunia atas yang menyebabkan runtuhnya Autumm ke 12 hingga 34. Autumm yang runtuh adalah Autumm tingkat 13 kebawah yang merupakan Autumm ayakashi dan beberapa Autumm pelindung. Alasan pelindung Autumm dewa tidak ikut runtuh adalah adanya kekuatan Yurei, dewa dari segala dewa di dunia parallel yang mengorbankan nyawanya sebagai pendorong kekuatan pelindung inti sehingga terbentuk barrier baru yang menyangga dan menghalangi jatuhnya Autumm yang tersisa. Namun beliau tidak bisa menyelamatkan Autumm lainnya yang telah runtuh.

Ayakashi yang jatuh ke dunia manusia tidak bisa kembali ke dunia atas karena beberapa faktor utama, diantaranya tidak adanya Autumm penghubung yang merupakan jalan penghubung kedua dunia, tidak adanya Autumm baru yang terbentuk untuk tempat tinggal mereka, tidak adanya Yurei yang merupakan satu – satunya dewa dengan kekuatan yang bisa mengembalikan mereka, dan mereka terlanjur memasuki barrier dunia manusia sehingga untuk keluar dari barrier langit itu mereka memerlukan kekuatan yang sangat besar. Ayakashi di dunia parallel merupakan ayakashi hasil kreasi pikiran dan harapan manusia yang akhirnya timbul dan terbentuk berkat kekuatan dewa – dewa parallel yang dikenal sebagai Mizuki Renamiyano yang bertugas untuk menciptakan karakteristik, menghidupkan, mengatur takdir dan mencabut nyawa ayakashi tersebut. (Lebih jelasnya akan Author buat tentang Dewa – Dewa Dunia Parallel). Sumber kehidupan dan inspirasi utama para ayakashi adalah manusia sehingga apabila manusia takut, dan mengutuk ayakashi, umur para ayakashi akan menipis dan ayakashi yang sebenarnya adalah makhluk abadi akan meninggal. Oleh karena itu, para dewa memikirkan suatu cara untuk bisa membawa ayakashi – ayakashi kembali ke dunia atas yang terlindung dari segala pengaruh dunia manusia.


****

Cahaya merah berpendar – pendar itu menghilang menampakkan sosok Gotah yang semakin tua dan rapuh tersungkur di tanah.

“Ayah!!”dengan pelan Inori menidurkan ayahnya di pangkuannya, “Ayah tak apa kan?”

“Apa langitnya.. berubah?” Gotah menatap langit yang semakin tenang dan bernafas lega, “Syukurlah.. Dengan begini kita bisa sedikit lebih tenang..”

“Kenapa ayah? Bukankah semuanya sudah selesai?”

“Masih ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, Inori. Alasan mengapa barrier ini runtuh.” kata Gotah sambil memegang dadanya, “Sepertinya... ukh,,”

“Ayah! Kuatlah ayah.. Akan kubacakan tembang pengobat..”,”Sudahlah Inori.. Aku tau ini akan terjadi..” Gotah memotong kata – kata Inori dan menggenggam tangannya, “aku sudah tak bisa lagi..”

“,,,Ayah jangan bercanda!”

Gotah menggelengkan kepalanya dan menghapus air mata Inori yang merembes turun di pipi putri tunggalnya itu, “Aku sudah bersumpah pada Yurei.."

"Tapi ayah... ayah.. sudah berjanji padaku.. aku.." Inori menggenggam tangan Gotah dan menangis seraya Gotah mulai kehilangan kesadarannya.

"Aku akan selalu bersamamu Inori.. Sampai kapanpun.. Dimanapun kau berada.. Karena itu, lindungilah Osaka, Zeeland, Avalonia.." Samar samar tubuh Gotah mulai berpendar - pendar dengan warna keemasan dan kesadarannya menipis, "Inori.." Gotah menutup matanya dan sebutir berlian jatuh menetes di pipinya, menghilang bagai kembang api.

"Ayah.." Inori menggoyangkan tubuh Gotah dan menyentuh kening ayahnya, "Ayah...? Ayah!!"

Seraya tangis Inori mengalun mengiringi guntur yang menderai, sosok Gotah perlahan - lahan menghilang dan berubah menjadi butiran serbuk keemasan yang terbang ke langit.
 ****
 "Inori!!!" Shion turun dari kudanya dan dengan cepat melepas jubahnya, memayungi Inori, "Kau tak apa? Apa yang kau lakukan disini, sendirian?"

"S.. Shion..." isak Inori sambil memeluk baju Gotah yang tersisa erat - erat dan terus menangis, "Shion!"

"Ada apa hei! Inori!" Shion memeluk Inori sambil berusaha menatap wajahnya, "Kenapa?"

Beberapa saat kemudian, Inori berhenti menangis dan melepas pelukan Shion, "Sudah tidak ada.." katanya sambil menatap Shion dengan mata yang penuh kekosongan.

"Apa?" Shion menyibakkan poni yang menutupi wajah Inori dan mengusap keningnya, "Apa yang terjadi? Ayo katakan.."

"Tak apa.." Inori dengan cepat menyeka air matanya, "Aku ingin main hujan sebentar. Apa aku menakutkanmu?"

"Hah?" Shion menepuk kepala Inori dan berdiri, "Ya sudah. Kau akan sakit. Akan kulaporkan pada pak tua dan aku yakin ia akan sangat marah padamu."

"Oh.." kata Inori sendu sambil tersenyum pahit, "Ayah, ya? Mungkin ia takkan marah.."

"Sudah ayo kita pulang. Aku yakin ia akan sangat khawatir." seru Shion sambil memberdirikan Inori, "Lampu rumahmu masih menyala saat aku lewat barusan, jadi kupikir kau ada dirumah. Tapi rumahmu kosong dan pak tua juga tak ada disana. Dasar orang tak kenal usia."

Inori terdiam dan memegang tangan Shion, "Begitu, ya?"

"Kenapa kamu? Aku hanya ber..," Shion menghentikan kata - katanya begitu ia melihat mata Inori yang dingin itu berkutat penuh kesedihan, "Inori?"

"Ayah.. Sungguh orang yang sangat bodoh. Untuk apa ayah menanam jagung apabila ayah takkan kembali untuk memakannya? Untuk apa ayah membelikanku kuda jika ayah takkan bisa mengajarkanku? Untuk apa ayah mengajarkanku untuk tersenyum apabila ayah takkan pernah melihat senyumku lagi? Dan untuk apa... aku masih berada disini jika ayah sudah berada di dunia ibu?" gumam Inori sambil menutup matanya, "ayah.."

"Hey.." Mata Shion terbelalak, "Apa maksudmu, Inori? Pak tua.. Pak tua mana?!"

Inori tersenyum pahit dan menatap Shion. Walaupun tersamar diantara hujan, Shion yakin saat itu, Inori, menangis.

Shion tertegun dan menyadari adanya retakan besar di tempat mereka berdiri. Ia menatap retakan tanah tempat Gotah menyalakan tembang penguasanya itu, "Tidak mungkin.. Kau bercanda, kan? Pak tua.."

Inori memeluk Shion erat dan menyembunyikan wajahnya di bahu Shion, "Bawa aku pergi, Shion.."

Dengan gigi yang mengeram pahit dan matanya yang berkelit penuh kesedihan itu Shion menggendong Inori dan berjalan menuruni Anakagumon sementara kuda Shion mengikutinya di belakang.

"Inori.."

"Hm?"

"Kau bertambah berat.." kata Shion sambil menutup matanya pelan, berusaha agar suaranya tak bergetar, "dan kakimu.."

"Diam.." Inori menggenggam baju Shion dan semakin menyembunyikan wajahnya.

"Em.." kata Shion sambil menatap langit, "Hujannya.. deras ya?"

"Hm?"

"Karena katanya hujan adalah tangisan para dewa,"

"...tangis?"

"Ya.."

"Mengapa mereka menangis?" tanya Inori sambil menatap Shion, "Dewa tak punya harapan dan emosi.."

"Karena seseorang yang sangat berharga telah datang pada mereka. Pergi dari dunia. Mereka menangis, sebagai ganti tangis orang lain yang ditinggalkan orang itu. Karena itu Inori," Shion menatap wajah Inori lembut dengan mata yang berbendung air mata, "hentikan sikap dewasamu itu dan menangislah."

Inori tertegun, menyentuh pipi Shion dan menutup matanya, "aku harus.. bagaimana lagi?"

"Jangan paksakan dirimu seperti ini. Percaya padaku.. Kau akan merasa lebih baik, bila kau meluapkan segalanya.

"Tapi.. Aku.. Shion!!" Inori memeluk Shion lagi dan menangis sejadi - jadinya, "Aku tak mau! Aku tak bisa memaafkan mereka dan takdir yang mereka jatuhkan pada ayah! Ayah, sangat baik.. Ayah.. Ayah.."

"S.. Sialan.." Shion menyeka air matanya dan terus berjalan hingga Inori jatuh tertidur dan merekapun tiba di mansion Reverie.


****