"Because we were born in same sunlight, ground, and scent. We're by this connection
called fate. And what brought us now here is our own different flame, so they could
meet and bring a new flare in our life. We are, GODEATER." ~Nagi Akakuro
![]() |
| Top of Anakagumon from afar (Mountain of God e.g. Lung) |
Siluet sosok laki - laki berjubah berlari melintasi
cakrawala Avalonia yang memerah. Langit luas membentang dan awan - awan
bergerak cepat menjauhi bintang utama menuju ke selatan.
Laki-laki dengan jubah itu terdiam, menatap bintang utama
dan mengerinyitkan alis matanya yang berkelit tebal kemudian merogoh sakunya,
mengeluarkan sebuah jam antik tanpa jarum jam, menit, detik. Ia mengeluh
khawatir kemudian angin berhembus menerjangnya, mengibaskan jubahnya yang kusam
bermandikan cahaya merah scarlet. Dengan ragu ia menatap bintang utama dan
berbisik, "Langit runtuh,"
****
"Ayah?" Inori, anak dari Gotah penjaga Gunung
Anakagumon menoleh ke arah Gotah yang menatap langit dengan gentar, "Ada
apa?"
"Inori,," bisik Gotah sambil menatap langit dan
mengerinyitkan matanya, "Cepat.. Kita ke hutan," katanya sambil
meletakkan keranjang buah bawaannya dan berlari kearah puncak Anakagumon.
"Ada apa ayah?" tanya Inori sambil berlari dibelakang
ayahnya.
"Cepat!"
Mereka berlari ke hutan dengan tergesa-gesa, menaiki Gunung
Anakagumon yang kejam dan gelap bermandikan cahaya keemasan senja yang tak
kenal ampun.
"Ayah, ada apa?" tanya Inori, terengah-engah
mendaki di belakang ayahnya yang berjalan semakin pelan.
"Aku,, Aku,," terengah-engah, Gotah terus mendaki
dan mendaki, "Aku harus melindungi Osaka,"
“Sudah ayah.. Ayo pulang.. Ayah tak mungkin bisa mendaki
dengan kondisi seperti ini..” ratap Inori sambil memapah Gotah, “Ayo,”
“D.. Diam Inori.. Bawa aku naik.. C..cepatlah.. Jika tidak..
langit akan runtuh..” rintih Gotah, berusaha mendaki dengan kedua kaki-nya.
"Langit? Jangan - jangan.." seru Inori tekejut
dengan berbendung air mata, "Waktunya sudah tiba?"
"Ya.." jawab Gotah sambil menatap bintang utama,
"Waktunya bagiku untuk kembali kepada Yurei." Gotah tersungkur diatas
kedua kaki tuanya yang bergetar lemah.
"Ayah!"
“Inori.. Kau ingat kan.. Kenyataan bahwa keluarga kita
adalah keluarga pembawa sial. Dalam darah kita mengalir.. kekuatan.. untuk
melindungi Osaka. Kini, sudah saatnya bagiku untuk melanjutkan apa yang telah
leluhurku lakukan sebagai penjaga barrier Gunung Anakagumon. Aku harus
melindungi.. barrier ini sampai akhir. Karena itu Inori, tolong antar aku ke
puncak,” dengan lemah Gotah menggenggam tangan Inori dengan tangan tuanya yang
bergetar dengan hebat, “Inori,”
“I.. Iya,” jawab Inori menahan tangisnya dan memapah Gotah,
“dan ayah, akan pulang bersamaku,,”
“Ya,”
****
“Shion..”
“Apa?” seru Shion mengerinyitkan alisnya sambil mengaduk –
aduk teh, “Rivalry?”
Aide Shion, Rivalry, menatap tuannya dengan bengis dan
mengetuk meja kerja Shion, “Kau melamun. Laporan itu terkena cipratan teh-mu.”
“Oh,” jawab Shion ringan kemudian menumpahkan sisa teh itu
ke atas laporan lainnya, “Katakan pada mereka biar penjual teh ini yang menjadi
raja selanjutnya,”
“Shion!”
“Aku tau.. Aku tau.. Sebagai anak tunggal penguasa Reverie
aku harus menjadi kandidat raja Osaka, ya?” Shion tertawa dengan putus asa,
“Dasar darah sialan,”
Rivalry terdiam sambil merapikan laporan – laporan Shion,
“Kau,,” bisiknya.
“Apa?” tanya Shion heran, “Dingin? Jangan bercanda.”
“Karena hanya perempuan lusuh itu yang ada di benakmu kan? Kau selalu
mengutamakannya daripada Reverie sekalipun. Hanya karena ia menyelamatkanmu
dari pers hitam 5 tahun lalu.”
“Hey,” celetuk Shion sambil tersenyum, “Jangan lupa namanya, I-N-O-R-I,”
“Ya. Sekarang cepat...” Sebelum Rivalry menyelesaikan kata –
katanya, halilintar berkelebat dan Anakagumon dari jauh terlihat membara,
“Shi.. Shion,”
“Inori..” kata Shion lirih sambil meraih jubah dan pedangnya
yang menggantung di lemari, “Ini tugas. Selesaikan semua laporan itu Rivalry!”
Sekejap iris mata Shion berubah hitam, mengarah ke mata
Rivalry yang mengakibatkan Rivalry langsung duduk di bangku Shion dan
mengerjakan laporan tersebut sesuai titah Shion. Kekuatan penguasa Reverie,
Varian.
Shion pergi keluar mansion-nya dengan menunggangi kuda-nya,
“Inori,” bisiknya, menerjang hujan menuju Anakagumon.
****
“Kita sampai ayah,”
“Terimakasih...” Gotah melepaskan rangkulan Inori. Mereka
telah sampai di puncak Anakagumon dengan tarian halilintar dan selimut badai
memayungi langit, "Epinema.."
"Sekarang apa ayah?"
"Segelnya hancur. Aku harus membuat segel baru,"
jawab Gotah sambil mengeluarkan gulungan penguasa Anakagumon yang sudah lusuh
kemudian menggigit ibu jari-nya, menorehkan namanya di gulungan itu menggunakan
darahnya, "Menjauh Inori.."
Inori mundur beberapa langkah, “Ayah..”
Gotah meletakkan gulungan itu di tanah, meletakkan telapak
tangan diatasnya dan membaca tembang penguasa,
"Aku adalah penjaga dan penjaga adalah aku.
Aku adalah waktu dan waktu adalah aku.
Aku adalah tanah dan tanah adalah aku.
Aku adalah gunung dan gunung adalah aku.
Aku adalah nyawa dan nyawa adalah aku.
Aku adalah Anakagumon dan Anakagumon adalah aku.
Atas nama penjaga, waktu, tanah, gunung, nyawa, dan Anakagumon aku mengatur tempat ini.
Turuti perintahku.”
Cahaya merah
kuning berpendar – pendar, memecah permukaan tanah tempat Gotah berdiri. Miasma
bertebaran dan meracuni udara. Gotah tetap bertahan dengan posisi ‘penguasa’-nya
dan menapakkan kaki kanannya keras menghantam tanah. Miasma itu pudar seolah –
olah angin meniup mereka menjauh.
“Wahai Raja
Naga yang gagah. Wahai dewa langit perkasa. Dengan ini hamba menyatakan
penggantian segel. Atas nama penjaga, waktu, tanah, gunung, nyawa, dan
Anakagumon hamba memohon penghancuran terhadap segel lama dan pembaruan segel
baru,” kata Gotah sambil mengangkat kemudian menelungkupkan tangannya,
“Anakagumon,”
Ledakan besar
cahaya merah memecah langit berawan badai hitam , menembus barrier Osaka dan
membentuk barrier baru. Barrier itu membentang seperti bola, menyelubungi tanah
dan langit Osaka, melindunginya dari serangan dan ancaman dunia atas maupun
bawah. Tak hanya di Osaka, Sang, Gome Kifune, Ukkyou, Gifu, diikuti region
lainnya mulai memancarkan cahaya – cahaya dewa mereka dan membentuk barrier –
barrier baru. Pertanda akan adanya bencana dan kedatangan dari dunia atas dan
dunia bawah.
Dunia parallel
terdiri atas 3 bagian dunia yaitu dunia dewa, dunia manusia, dan dunia bawah.
Perumpamaan yang sama dengan langit, bumi dan dalam bumi. Di dunia manusia atau
dikenal dengan sebutan Avalonia terdiri atas dua pulau besar yaitu Zeeland dan
Zousia. Dunia atas adalah dunia dewa dan dunia bawah adalah dunia setan. Dunia
dewa terdiri atas 34 tingkatan yang disebut Autumm Langit. Tingkatan ini dibagi
menjadi 4 bagian yaitu bagian dewa yang dihuni oleh dewa – dewa penjaga
harmonisasi dunia parallel dan dewa hasil reinkarnasi manusia, bagian ayakashi
yang dihuni oleh ribuan ayakashi berbagai jenis dan ukuran yang merupakan hasil
dari impian dan imajinasi manusia Avalonia, bagian pelindung atau sering
dikenal dengan istilah barrier yang berfungsi untuk menjaga agar dunia atas
tetap kasat mata oleh dunia manusia yang ada di bawahnya dan untuk menjaga agar
tak ada satupun hal dunia luar yang bisa masuk ke dunia atas dan tak ada
satupun makhluk dunia atas yang bisa jatuh ke dunia manusia, serta bagian
penghubung yang berfungsi untuk menghubungkan ketiga bagian dunia.
Keempat
bagian ini membentuk tingkatan vertikal selayaknya tumpuk tumpukan awan dengan
urutan bagian dewa yang paling atas terdiri atas 10 tingkat, bagian pelindung
inti 1 tingkat, bagian penghubung 2 tingkat, bagian pelindung tengah 1 tingkat,
bagian ayakashi 18 tingkat dan 2 tingkat
bagian pelindung luar yang terbesar dan terkuat yang dikenal dengan istilah Lectherandeum.
Epinema langit runtuh yang terjadi di Avalonia merupakan hasil dari
hancurnya bagian barrier pada dunia atas yang menyebabkan runtuhnya
Autumm ke 12 hingga 34. Autumm yang runtuh adalah Autumm tingkat 13
kebawah yang merupakan Autumm ayakashi dan beberapa Autumm pelindung.
Alasan pelindung Autumm dewa tidak ikut runtuh adalah adanya kekuatan
Yurei, dewa dari segala dewa di dunia parallel yang mengorbankan
nyawanya sebagai pendorong kekuatan pelindung inti sehingga terbentuk
barrier baru yang menyangga dan menghalangi jatuhnya Autumm yang
tersisa. Namun beliau tidak bisa menyelamatkan Autumm lainnya yang telah
runtuh.
Ayakashi yang jatuh ke dunia manusia tidak bisa kembali ke dunia atas karena beberapa faktor utama, diantaranya tidak adanya Autumm penghubung yang merupakan jalan penghubung kedua dunia, tidak adanya Autumm baru yang terbentuk untuk tempat tinggal mereka, tidak adanya Yurei yang merupakan satu – satunya dewa dengan kekuatan yang bisa mengembalikan mereka, dan mereka terlanjur memasuki barrier dunia manusia sehingga untuk keluar dari barrier langit itu mereka memerlukan kekuatan yang sangat besar. Ayakashi di dunia parallel merupakan ayakashi hasil kreasi pikiran dan harapan manusia yang akhirnya timbul dan terbentuk berkat kekuatan dewa – dewa parallel yang dikenal sebagai Mizuki Renamiyano yang bertugas untuk menciptakan karakteristik, menghidupkan, mengatur takdir dan mencabut nyawa ayakashi tersebut. (Lebih jelasnya akan Author buat tentang Dewa – Dewa Dunia Parallel). Sumber kehidupan dan inspirasi utama para ayakashi adalah manusia sehingga apabila manusia takut, dan mengutuk ayakashi, umur para ayakashi akan menipis dan ayakashi yang sebenarnya adalah makhluk abadi akan meninggal. Oleh karena itu, para dewa memikirkan suatu cara untuk bisa membawa ayakashi – ayakashi kembali ke dunia atas yang terlindung dari segala pengaruh dunia manusia.
****
Cahaya merah berpendar – pendar itu menghilang menampakkan sosok Gotah yang semakin tua dan rapuh tersungkur di tanah.
“Ayah!!”dengan pelan Inori menidurkan ayahnya di pangkuannya, “Ayah tak apa kan?”
“Apa langitnya.. berubah?” Gotah menatap langit yang semakin tenang dan bernafas lega, “Syukurlah.. Dengan begini kita bisa sedikit lebih tenang..”
“Kenapa ayah? Bukankah semuanya sudah selesai?”
“Masih ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, Inori. Alasan mengapa barrier ini runtuh.” kata Gotah sambil memegang dadanya, “Sepertinya... ukh,,”
“Ayah! Kuatlah ayah.. Akan kubacakan tembang pengobat..”,”Sudahlah Inori.. Aku tau ini akan terjadi..” Gotah memotong kata – kata Inori dan menggenggam tangannya, “aku sudah tak bisa lagi..”
“,,,Ayah jangan bercanda!”
Gotah menggelengkan kepalanya dan menghapus air mata Inori yang merembes turun di pipi putri tunggalnya itu, “Aku sudah bersumpah pada Yurei.."
"Tapi ayah... ayah.. sudah berjanji padaku.. aku.." Inori menggenggam tangan Gotah dan menangis seraya Gotah mulai kehilangan kesadarannya.
"Aku akan selalu bersamamu Inori.. Sampai kapanpun.. Dimanapun kau berada.. Karena itu, lindungilah Osaka, Zeeland, Avalonia.." Samar samar tubuh Gotah mulai berpendar - pendar dengan warna keemasan dan kesadarannya menipis, "Inori.." Gotah menutup matanya dan sebutir berlian jatuh menetes di pipinya, menghilang bagai kembang api.
"Ayah.." Inori menggoyangkan tubuh Gotah dan menyentuh kening ayahnya, "Ayah...? Ayah!!"
Seraya tangis Inori mengalun mengiringi guntur yang menderai, sosok Gotah perlahan - lahan menghilang dan berubah menjadi butiran serbuk keemasan yang terbang ke langit.
Ayakashi yang jatuh ke dunia manusia tidak bisa kembali ke dunia atas karena beberapa faktor utama, diantaranya tidak adanya Autumm penghubung yang merupakan jalan penghubung kedua dunia, tidak adanya Autumm baru yang terbentuk untuk tempat tinggal mereka, tidak adanya Yurei yang merupakan satu – satunya dewa dengan kekuatan yang bisa mengembalikan mereka, dan mereka terlanjur memasuki barrier dunia manusia sehingga untuk keluar dari barrier langit itu mereka memerlukan kekuatan yang sangat besar. Ayakashi di dunia parallel merupakan ayakashi hasil kreasi pikiran dan harapan manusia yang akhirnya timbul dan terbentuk berkat kekuatan dewa – dewa parallel yang dikenal sebagai Mizuki Renamiyano yang bertugas untuk menciptakan karakteristik, menghidupkan, mengatur takdir dan mencabut nyawa ayakashi tersebut. (Lebih jelasnya akan Author buat tentang Dewa – Dewa Dunia Parallel). Sumber kehidupan dan inspirasi utama para ayakashi adalah manusia sehingga apabila manusia takut, dan mengutuk ayakashi, umur para ayakashi akan menipis dan ayakashi yang sebenarnya adalah makhluk abadi akan meninggal. Oleh karena itu, para dewa memikirkan suatu cara untuk bisa membawa ayakashi – ayakashi kembali ke dunia atas yang terlindung dari segala pengaruh dunia manusia.
****
Cahaya merah berpendar – pendar itu menghilang menampakkan sosok Gotah yang semakin tua dan rapuh tersungkur di tanah.
“Ayah!!”dengan pelan Inori menidurkan ayahnya di pangkuannya, “Ayah tak apa kan?”
“Apa langitnya.. berubah?” Gotah menatap langit yang semakin tenang dan bernafas lega, “Syukurlah.. Dengan begini kita bisa sedikit lebih tenang..”
“Kenapa ayah? Bukankah semuanya sudah selesai?”
“Masih ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, Inori. Alasan mengapa barrier ini runtuh.” kata Gotah sambil memegang dadanya, “Sepertinya... ukh,,”
“Ayah! Kuatlah ayah.. Akan kubacakan tembang pengobat..”,”Sudahlah Inori.. Aku tau ini akan terjadi..” Gotah memotong kata – kata Inori dan menggenggam tangannya, “aku sudah tak bisa lagi..”
“,,,Ayah jangan bercanda!”
Gotah menggelengkan kepalanya dan menghapus air mata Inori yang merembes turun di pipi putri tunggalnya itu, “Aku sudah bersumpah pada Yurei.."
"Tapi ayah... ayah.. sudah berjanji padaku.. aku.." Inori menggenggam tangan Gotah dan menangis seraya Gotah mulai kehilangan kesadarannya.
"Aku akan selalu bersamamu Inori.. Sampai kapanpun.. Dimanapun kau berada.. Karena itu, lindungilah Osaka, Zeeland, Avalonia.." Samar samar tubuh Gotah mulai berpendar - pendar dengan warna keemasan dan kesadarannya menipis, "Inori.." Gotah menutup matanya dan sebutir berlian jatuh menetes di pipinya, menghilang bagai kembang api.
"Ayah.." Inori menggoyangkan tubuh Gotah dan menyentuh kening ayahnya, "Ayah...? Ayah!!"
Seraya tangis Inori mengalun mengiringi guntur yang menderai, sosok Gotah perlahan - lahan menghilang dan berubah menjadi butiran serbuk keemasan yang terbang ke langit.
****
"Inori!!!" Shion turun dari kudanya dan dengan cepat melepas
jubahnya, memayungi Inori, "Kau tak apa? Apa yang kau lakukan disini,
sendirian?"
"S.. Shion..." isak Inori sambil memeluk baju Gotah yang tersisa erat - erat dan terus menangis, "Shion!"
"Ada apa hei! Inori!" Shion memeluk Inori sambil berusaha menatap wajahnya, "Kenapa?"
Beberapa saat kemudian, Inori berhenti menangis dan melepas pelukan Shion, "Sudah tidak ada.." katanya sambil menatap Shion dengan mata yang penuh kekosongan.
"Apa?" Shion menyibakkan poni yang menutupi wajah Inori dan mengusap keningnya, "Apa yang terjadi? Ayo katakan.."
"Tak apa.." Inori dengan cepat menyeka air matanya, "Aku ingin main hujan sebentar. Apa aku menakutkanmu?"
"Hah?" Shion menepuk kepala Inori dan berdiri, "Ya sudah. Kau akan sakit. Akan kulaporkan pada pak tua dan aku yakin ia akan sangat marah padamu."
"Oh.." kata Inori sendu sambil tersenyum pahit, "Ayah, ya? Mungkin ia takkan marah.."
"Sudah ayo kita pulang. Aku yakin ia akan sangat khawatir." seru Shion sambil memberdirikan Inori, "Lampu rumahmu masih menyala saat aku lewat barusan, jadi kupikir kau ada dirumah. Tapi rumahmu kosong dan pak tua juga tak ada disana. Dasar orang tak kenal usia."
Inori terdiam dan memegang tangan Shion, "Begitu, ya?"
"Kenapa kamu? Aku hanya ber..," Shion menghentikan kata - katanya begitu ia melihat mata Inori yang dingin itu berkutat penuh kesedihan, "Inori?"
"Ayah.. Sungguh orang yang sangat bodoh. Untuk apa ayah menanam jagung apabila ayah takkan kembali untuk memakannya? Untuk apa ayah membelikanku kuda jika ayah takkan bisa mengajarkanku? Untuk apa ayah mengajarkanku untuk tersenyum apabila ayah takkan pernah melihat senyumku lagi? Dan untuk apa... aku masih berada disini jika ayah sudah berada di dunia ibu?" gumam Inori sambil menutup matanya, "ayah.."
"Hey.." Mata Shion terbelalak, "Apa maksudmu, Inori? Pak tua.. Pak tua mana?!"
Inori tersenyum pahit dan menatap Shion. Walaupun tersamar diantara hujan, Shion yakin saat itu, Inori, menangis.
Shion tertegun dan menyadari adanya retakan besar di tempat mereka berdiri. Ia menatap retakan tanah tempat Gotah menyalakan tembang penguasanya itu, "Tidak mungkin.. Kau bercanda, kan? Pak tua.."
Inori memeluk Shion erat dan menyembunyikan wajahnya di bahu Shion, "Bawa aku pergi, Shion.."
Dengan gigi yang mengeram pahit dan matanya yang berkelit penuh kesedihan itu Shion menggendong Inori dan berjalan menuruni Anakagumon sementara kuda Shion mengikutinya di belakang.
"Inori.."
"Hm?"
"Kau bertambah berat.." kata Shion sambil menutup matanya pelan, berusaha agar suaranya tak bergetar, "dan kakimu.."
"Diam.." Inori menggenggam baju Shion dan semakin menyembunyikan wajahnya.
"Em.." kata Shion sambil menatap langit, "Hujannya.. deras ya?"
"Hm?"
"Karena katanya hujan adalah tangisan para dewa,"
"...tangis?"
"Ya.."
"Mengapa mereka menangis?" tanya Inori sambil menatap Shion, "Dewa tak punya harapan dan emosi.."
"Karena seseorang yang sangat berharga telah datang pada mereka. Pergi dari dunia. Mereka menangis, sebagai ganti tangis orang lain yang ditinggalkan orang itu. Karena itu Inori," Shion menatap wajah Inori lembut dengan mata yang berbendung air mata, "hentikan sikap dewasamu itu dan menangislah."
Inori tertegun, menyentuh pipi Shion dan menutup matanya, "aku harus.. bagaimana lagi?"
"Jangan paksakan dirimu seperti ini. Percaya padaku.. Kau akan merasa lebih baik, bila kau meluapkan segalanya.
"Tapi.. Aku.. Shion!!" Inori memeluk Shion lagi dan menangis sejadi - jadinya, "Aku tak mau! Aku tak bisa memaafkan mereka dan takdir yang mereka jatuhkan pada ayah! Ayah, sangat baik.. Ayah.. Ayah.."
"S.. Sialan.." Shion menyeka air matanya dan terus berjalan hingga Inori jatuh tertidur dan merekapun tiba di mansion Reverie.
****
"Lihat apa yang kau lakukan Shion! Apa yang terjadi pada tikus Reverie ini?! Jangan - jangan, kau melakukan hal tak senonoh dan.." kata Rivalry sambil menyodorkan handuk pada Shion yang basah kuyup bersama Inori yang terlelap di pelukannya.
"Apa - apaan kau Riva.. Dia kehujanan dan.." kata Shion sambil membaringkan Inori di ranjangnya, "dan.."
"Shion.." Rivalry mengeringkan rambut dan tubuh Inori kemudian memegang tangan Shion, "Jangan terlalu melibatkan dirimu dengan orang - orang penjaga gunung. Mereka.."
"Hentikan Rivalry!" Shion melepas pegangan Rivalry dan pergi keluar, "Tolong, untuk saat ini, jaga dia."
Rivalry terkejut, meletakkan tangannya di pangkuannya dan menggangguk pelan sementara Shion keluar dari kamarnya. Rivalry menatap Inori dan mengusapkan handuk pada wajah Inori dengan pelan, "Kau selalu begitu. Merebutnya dengan wajahmu yang selalu.. menangis.." katanya sambil mengelus wajah Inori, "Kau sangat cantik, kau tau? Jangan sia - siakan wajah cantikmu dengan tangisan dan kesedihan seperti itu."
Shion merebahkan dirinya di bangku dan menghela nafas berat, "Sialan.." Ia beranjak dan mengambil pedangnya, "Apa aku.. bisa melindunginya? Ayah.. aku.. takkan melanggar janjiku.." katanya kemudian jatuh tertidur.
"Shion?"
"Eh?" Shion terbangun dan Inori berada di hadapannya, memegang pipinya, "Inori? Kau sudah bangun?" katanya sambil duduk.
"Em.." Inori mengangguk dan duduk di samping Shion, "Terima kasih, atas segalanya.."
"Jadi.. Kapan kau akan memperabukannya?"
"Mungkin besok.." jawab Inori sambil tersenyum, "Aku yakin ayah akan kedinginan tanpa pakaiannya disana."
"Begitu.." seru Shion pelan sambil menepuk kepala Inori, "Jangan paksakan dirimu. Lagipula, aku dan semua rakyat Osaka sangat menghormati ayahmu. Aku yakin mereka takkan diam saja mengenai hal ini,"
"Em.. Terima kasih Shion,"
Inori berjalan dengan terhuyung - huyung dan tatapannya yang kosong. Tanpa sadar ia menabrak seseorang yang tiba - tiba muncul di hadapannya, "Maaf.." katanya sambil membungkuk dan berjalan lagi.
"Tatemizu-san, ya?"
Inori berbalik dan menatap orang itu, "Ya?" Ia menatap lelaki yang mengenakan jubah itu, "Maaf, mengapa Tuan mengetahui nama saya?"
"Anak dari penjaga Anakagumon, Go Tatemizu dan Anri Seryuuki. Lahir 26 Februari 18XX. Teman masa kecil calon penguasa Osaka, Shion Reverie dan sangat akrab. Berniat.." kata lelaki itu menatap Inori dengan mata kanannya yang biru berkilat cemerlang, "bunuh diri, ya?"
"H..hentikan!" Inori memotong kata - kata orang itu, "Siapa kau?"
"Apa kau ingin mengetahui kebenaran?" tanya laki - laki itu sambil memperlihatkan wajahnya yang tertutup jubahnya, "Kebenaran tentang dunia?"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku barusan," gerutu Inori sambil berbalik, "Aku tak punya urusan apapun denganmu. Permisi!"
"Apa kau ingin tau alasan epinema kemarin?"
"Huh?" Inori berbalik lagi dan menatap mata laki - laki itu lekat - lekat, "Ya," katanya sambil memasang wajah serius, "Beritau aku semua yang kau tau, Tuan."
"Hoo.. Menarik.." kata lelaki itu, tersenyum dan menatap Inori, "Tapi aku tidak tau.. Belum tau.."
"Apa? Kau menipuku!"
"Aku adalah pengembara dan aku ingin tau semua hal yang terjadi di dunia ini."
"Semua?"
"Ya. Hal - hal yang berkaitan dengan Yurei, Avalonia, Autumm Angkasa, Setan, Epinema, Ayakashi, Spirit, Mage, Tembang Mantra, Dewa Parallel, dan.."
Inori memicingkan mata, terkejut dan menyela, "Biar kutebak. Dunia lain?"
"Tepat. Sudah kuduga seorang titisan dewa gunung pasti mengetahuinya." kata lelaki itu sambil tersenyum kemudian mengarahkan tangan kanannya pada Inori, "Jadi.. Maukah kau ikut bersamaku?"
"Kemana? Aku tak bisa meninggalkan Anakagumon yang saat ini sedang kosong.." kata Inori menepis tangan lelaki itu, "dan aku tak mengenalmu. Darimana kau tau hal - hal yang seharusnya tak diketahui mahluk manapun selain penjaga gunung?"
"Itu rahasia." jawab lelaki itu sambil berbalik, "Tapi biar kuberitahu satu hal. Namaku Nagi Akakuro. Akan kutemui kau besok, dan aku yakin kau akan mengubah pikiranmu." katanya lalu menghilang.
"Orang itu.." Dengan terkejut Inori menutup mulutnya, "bisa melakukan mantra tanpa membuat tembang.. Jangan - jangan.."
"S.. Shion..." isak Inori sambil memeluk baju Gotah yang tersisa erat - erat dan terus menangis, "Shion!"
"Ada apa hei! Inori!" Shion memeluk Inori sambil berusaha menatap wajahnya, "Kenapa?"
Beberapa saat kemudian, Inori berhenti menangis dan melepas pelukan Shion, "Sudah tidak ada.." katanya sambil menatap Shion dengan mata yang penuh kekosongan.
"Apa?" Shion menyibakkan poni yang menutupi wajah Inori dan mengusap keningnya, "Apa yang terjadi? Ayo katakan.."
"Tak apa.." Inori dengan cepat menyeka air matanya, "Aku ingin main hujan sebentar. Apa aku menakutkanmu?"
"Hah?" Shion menepuk kepala Inori dan berdiri, "Ya sudah. Kau akan sakit. Akan kulaporkan pada pak tua dan aku yakin ia akan sangat marah padamu."
"Oh.." kata Inori sendu sambil tersenyum pahit, "Ayah, ya? Mungkin ia takkan marah.."
"Sudah ayo kita pulang. Aku yakin ia akan sangat khawatir." seru Shion sambil memberdirikan Inori, "Lampu rumahmu masih menyala saat aku lewat barusan, jadi kupikir kau ada dirumah. Tapi rumahmu kosong dan pak tua juga tak ada disana. Dasar orang tak kenal usia."
Inori terdiam dan memegang tangan Shion, "Begitu, ya?"
"Kenapa kamu? Aku hanya ber..," Shion menghentikan kata - katanya begitu ia melihat mata Inori yang dingin itu berkutat penuh kesedihan, "Inori?"
"Ayah.. Sungguh orang yang sangat bodoh. Untuk apa ayah menanam jagung apabila ayah takkan kembali untuk memakannya? Untuk apa ayah membelikanku kuda jika ayah takkan bisa mengajarkanku? Untuk apa ayah mengajarkanku untuk tersenyum apabila ayah takkan pernah melihat senyumku lagi? Dan untuk apa... aku masih berada disini jika ayah sudah berada di dunia ibu?" gumam Inori sambil menutup matanya, "ayah.."
"Hey.." Mata Shion terbelalak, "Apa maksudmu, Inori? Pak tua.. Pak tua mana?!"
Inori tersenyum pahit dan menatap Shion. Walaupun tersamar diantara hujan, Shion yakin saat itu, Inori, menangis.
Shion tertegun dan menyadari adanya retakan besar di tempat mereka berdiri. Ia menatap retakan tanah tempat Gotah menyalakan tembang penguasanya itu, "Tidak mungkin.. Kau bercanda, kan? Pak tua.."
Inori memeluk Shion erat dan menyembunyikan wajahnya di bahu Shion, "Bawa aku pergi, Shion.."
Dengan gigi yang mengeram pahit dan matanya yang berkelit penuh kesedihan itu Shion menggendong Inori dan berjalan menuruni Anakagumon sementara kuda Shion mengikutinya di belakang.
"Inori.."
"Hm?"
"Kau bertambah berat.." kata Shion sambil menutup matanya pelan, berusaha agar suaranya tak bergetar, "dan kakimu.."
"Diam.." Inori menggenggam baju Shion dan semakin menyembunyikan wajahnya.
"Em.." kata Shion sambil menatap langit, "Hujannya.. deras ya?"
"Hm?"
"Karena katanya hujan adalah tangisan para dewa,"
"...tangis?"
"Ya.."
"Mengapa mereka menangis?" tanya Inori sambil menatap Shion, "Dewa tak punya harapan dan emosi.."
"Karena seseorang yang sangat berharga telah datang pada mereka. Pergi dari dunia. Mereka menangis, sebagai ganti tangis orang lain yang ditinggalkan orang itu. Karena itu Inori," Shion menatap wajah Inori lembut dengan mata yang berbendung air mata, "hentikan sikap dewasamu itu dan menangislah."
Inori tertegun, menyentuh pipi Shion dan menutup matanya, "aku harus.. bagaimana lagi?"
"Jangan paksakan dirimu seperti ini. Percaya padaku.. Kau akan merasa lebih baik, bila kau meluapkan segalanya.
"Tapi.. Aku.. Shion!!" Inori memeluk Shion lagi dan menangis sejadi - jadinya, "Aku tak mau! Aku tak bisa memaafkan mereka dan takdir yang mereka jatuhkan pada ayah! Ayah, sangat baik.. Ayah.. Ayah.."
"S.. Sialan.." Shion menyeka air matanya dan terus berjalan hingga Inori jatuh tertidur dan merekapun tiba di mansion Reverie.
****
"Lihat apa yang kau lakukan Shion! Apa yang terjadi pada tikus Reverie ini?! Jangan - jangan, kau melakukan hal tak senonoh dan.." kata Rivalry sambil menyodorkan handuk pada Shion yang basah kuyup bersama Inori yang terlelap di pelukannya.
"Apa - apaan kau Riva.. Dia kehujanan dan.." kata Shion sambil membaringkan Inori di ranjangnya, "dan.."
"Shion.." Rivalry mengeringkan rambut dan tubuh Inori kemudian memegang tangan Shion, "Jangan terlalu melibatkan dirimu dengan orang - orang penjaga gunung. Mereka.."
"Hentikan Rivalry!" Shion melepas pegangan Rivalry dan pergi keluar, "Tolong, untuk saat ini, jaga dia."
Rivalry terkejut, meletakkan tangannya di pangkuannya dan menggangguk pelan sementara Shion keluar dari kamarnya. Rivalry menatap Inori dan mengusapkan handuk pada wajah Inori dengan pelan, "Kau selalu begitu. Merebutnya dengan wajahmu yang selalu.. menangis.." katanya sambil mengelus wajah Inori, "Kau sangat cantik, kau tau? Jangan sia - siakan wajah cantikmu dengan tangisan dan kesedihan seperti itu."
Shion merebahkan dirinya di bangku dan menghela nafas berat, "Sialan.." Ia beranjak dan mengambil pedangnya, "Apa aku.. bisa melindunginya? Ayah.. aku.. takkan melanggar janjiku.." katanya kemudian jatuh tertidur.
"Shion?"
"Eh?" Shion terbangun dan Inori berada di hadapannya, memegang pipinya, "Inori? Kau sudah bangun?" katanya sambil duduk.
"Em.." Inori mengangguk dan duduk di samping Shion, "Terima kasih, atas segalanya.."
"Jadi.. Kapan kau akan memperabukannya?"
"Mungkin besok.." jawab Inori sambil tersenyum, "Aku yakin ayah akan kedinginan tanpa pakaiannya disana."
"Begitu.." seru Shion pelan sambil menepuk kepala Inori, "Jangan paksakan dirimu. Lagipula, aku dan semua rakyat Osaka sangat menghormati ayahmu. Aku yakin mereka takkan diam saja mengenai hal ini,"
"Em.. Terima kasih Shion,"
****
"Beliau telah pergi sebagai pahlawan. Pahlawan tidak hanya untuk
Osaka tapi untuk Avalonia. Tanpa beliau, kita hanya bisa menunggu nasib
dimana Avalonia akan menghancurkan kita. Tuan perkasa yang telah kembali
ke dunia Yurei dan meninggalkan kami yang masih kotor ini. Karena
itulah Yurei yang agung, sambutlah beliau dan limpahkanlah segala
kebahagiaan untuknya..."
Inori berbalik dan meninggalkan prosesi pemakaman ayahnya yang belum selesai sambil menggenggam erat slayer hitamnya, "Selamat tinggal.."
"Inori.." kata Shion sambil memegang tangan Inori dan mencegatnya, "Kau mau kemana?"
"Anakagumon.." jawabnya pelan, "Aku akan mengambil alih Anakagumon sebagai penjaga gunung.."
"Sekarang?! Tapi.."
"Tidak ada waktu lagi.. Kau juga harus bersiap menjelang pemilihan Raja, Shion." katanya sambil melepas genggaman Shion dan berjalan pergi.
"Hey.." Shion mengepalkan tangan, "Siapa bilang aku tidak siap? Aku siap.. untuk meninggalkan semuanya.."
Inori berbalik dan meninggalkan prosesi pemakaman ayahnya yang belum selesai sambil menggenggam erat slayer hitamnya, "Selamat tinggal.."
"Inori.." kata Shion sambil memegang tangan Inori dan mencegatnya, "Kau mau kemana?"
"Anakagumon.." jawabnya pelan, "Aku akan mengambil alih Anakagumon sebagai penjaga gunung.."
"Sekarang?! Tapi.."
"Tidak ada waktu lagi.. Kau juga harus bersiap menjelang pemilihan Raja, Shion." katanya sambil melepas genggaman Shion dan berjalan pergi.
"Hey.." Shion mengepalkan tangan, "Siapa bilang aku tidak siap? Aku siap.. untuk meninggalkan semuanya.."
Inori berjalan dengan terhuyung - huyung dan tatapannya yang kosong. Tanpa sadar ia menabrak seseorang yang tiba - tiba muncul di hadapannya, "Maaf.." katanya sambil membungkuk dan berjalan lagi.
"Tatemizu-san, ya?"
Inori berbalik dan menatap orang itu, "Ya?" Ia menatap lelaki yang mengenakan jubah itu, "Maaf, mengapa Tuan mengetahui nama saya?"
"Anak dari penjaga Anakagumon, Go Tatemizu dan Anri Seryuuki. Lahir 26 Februari 18XX. Teman masa kecil calon penguasa Osaka, Shion Reverie dan sangat akrab. Berniat.." kata lelaki itu menatap Inori dengan mata kanannya yang biru berkilat cemerlang, "bunuh diri, ya?"
"H..hentikan!" Inori memotong kata - kata orang itu, "Siapa kau?"
"Apa kau ingin mengetahui kebenaran?" tanya laki - laki itu sambil memperlihatkan wajahnya yang tertutup jubahnya, "Kebenaran tentang dunia?"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku barusan," gerutu Inori sambil berbalik, "Aku tak punya urusan apapun denganmu. Permisi!"
"Apa kau ingin tau alasan epinema kemarin?"
"Huh?" Inori berbalik lagi dan menatap mata laki - laki itu lekat - lekat, "Ya," katanya sambil memasang wajah serius, "Beritau aku semua yang kau tau, Tuan."
"Hoo.. Menarik.." kata lelaki itu, tersenyum dan menatap Inori, "Tapi aku tidak tau.. Belum tau.."
"Apa? Kau menipuku!"
"Aku adalah pengembara dan aku ingin tau semua hal yang terjadi di dunia ini."
"Semua?"
"Ya. Hal - hal yang berkaitan dengan Yurei, Avalonia, Autumm Angkasa, Setan, Epinema, Ayakashi, Spirit, Mage, Tembang Mantra, Dewa Parallel, dan.."
Inori memicingkan mata, terkejut dan menyela, "Biar kutebak. Dunia lain?"
"Tepat. Sudah kuduga seorang titisan dewa gunung pasti mengetahuinya." kata lelaki itu sambil tersenyum kemudian mengarahkan tangan kanannya pada Inori, "Jadi.. Maukah kau ikut bersamaku?"
"Kemana? Aku tak bisa meninggalkan Anakagumon yang saat ini sedang kosong.." kata Inori menepis tangan lelaki itu, "dan aku tak mengenalmu. Darimana kau tau hal - hal yang seharusnya tak diketahui mahluk manapun selain penjaga gunung?"
"Itu rahasia." jawab lelaki itu sambil berbalik, "Tapi biar kuberitahu satu hal. Namaku Nagi Akakuro. Akan kutemui kau besok, dan aku yakin kau akan mengubah pikiranmu." katanya lalu menghilang.
"Orang itu.." Dengan terkejut Inori menutup mulutnya, "bisa melakukan mantra tanpa membuat tembang.. Jangan - jangan.."

No comments:
Post a Comment